Strategi rahasia investasi para miliarder yang tidak diceritakan kepada orang miskin dan rata-rata
Investing Is Planning Berinvestasi Adalah membuat rencana

Banyak orang bingung bagaimana caranya mulai berinvestasi. Banyak orang beranggapan bahwa berinvestasi sebaiknya dilakukan setelah memiliki income lebih tinggi, setelah kaya raya, setelah naik gaji, setelah naik jabatan, dan masih banyak lagi alasan lainnya.

Padahal, investasi adalah jalan emas kita menuju kebebasan finansial alias menjadi kaya raya. Jadi anggapan bahwa berinvestasi dimulai setelah kaya raya itu sama saja seperti “mulai diet dan fitness setelah kurus”. Para miliarder berinvestasi jauh sebelum mereka menjadi miliarder. Mereka paham betul bahwa berinvestasi itu seperti merencanakan kebebasan finansial. Lantas bagaimana perencanaan finansial para miliarder?

Miliarder Tahu Betul Apa Yang Mereka Lakukan Dengan Uang Mereka

Setiap kali saya ditanya “Saya punya uang Rp100.000.000, saya sebaiknya invest dimana?”, maka jawaban saya akan selalu sama “Saya tidak tahu. Tergantung dari perencanaan finansial anda”. Kesalahan terbesar yang banyak dilakukan orang adalah menyerukan kepada orang sekitarnya kalau mereka memiliki banyak uang, dan tidak tahu harus diapakan uang tersebut.

Jika anda melakukan hal itu, mendadak akan ada banyak orang yang mendatangi anda sebagai ahli investasi, pemberi kesempatan bisnis, dan pengelola dana. Kabar buruknya, jika anda tidak paham yang anda lakukan, uang itu akan hilang dengan cepat. Jika orang berduit bertemu dengan orang berpengalaman, orang dengan pengalaman pulang dengan duit, pemilik duit pulang dengan pengalaman

Investor Miliarder Berinvestasi Terhadap Kecerdasan Finansial

Investasi terpenting yang bias anda lakukan adalah investasi leher ke atas, alias berinvestasi terhadap kecerdasan finansial anda. Tidak ada investasi yang baik dan buruk.

Yang ada adalah investor yang baik dan yang buruk. Investor yang buruk biasanya disebut sebagai spekulator, atau penjudi dalam bahasa yang sederhana. Kabar buruknya, banyak spekulator yang merasa dirinya investor. Lebih buruk lagi, para spekulator ini mengajarkan kepada orang awam pengetahuan spekulatif mereka sebagai investor.

Para miliarder paham betul pentingnya kecerdasan finansial. Mereka akan belajar kepada para investor sesungguhnya. Bagaimana membedakan investor dan spekulator untuk kita belajar?

Apa Bedanya Investor Dan Spekulator?

Pada hakikatnya, berinvestasi adalah “beli murah jual mahal”, atau mengutamakan pada kenaikan nilai investasi. Contoh: beli property seharga Rp 100.000.000 untuk dijual lagi di harga Rp 150.000.000.

Spekulator berinvestasi dan berharap harga akan naik, dan cenderung berinvestasi karena ikut-ikutan terhadap tren pasar. Mereka akan berinvestasi Rp 100.000.000 kemudian berdoa dengan ketat berharap harga naik ke Rp 150.000.000.

Investor, sebaliknya, mereka akan mempertimbangkan dengan matang apakah masuk akal jika harga atau nilai investasi mereka naik ke Rp 150.000.000. Mereka tidak berinvestasi karena ikut-ikutan, melainkan hasil perhitungan dan logika yang matang.

Bagaimana Jika Nilai Investasi Investor Tidak Naik?

Warren Buffett, seorang investor legendaris di dunia dan salah satu orang terkaya di dunia, mengatakan bahwa seorang investor sejati tidak peduli akan nilai investasi mereka. Ketika nilainya naik, mereka profit. Ketika nilainya turun, mereka juga profit. Inilah yang membedakan investor dan spekulator. Spekulator akan menjerit ketika nilai investasi mereka stagnan atau turun, karena mereka pasti rugi. Investor profit ketika nilai investasi naik dan turun.

Dalam dunia property, keuntungan investor didapatkan dari capital gain dan cash flow. Capital gain adalah ketika investor mendapatkan profit dari kenaikan nilai. Tapi ketika nilai property stagnan atau pasar sedang turun, investor tetap profit dari cash flow, atau bisnis yang dihasilkan oleh property tersebut.

6 Strategi Investasi Yang Dilakukan Oleh Para Miliarder

  1. Investor miliarder melakukan aset alokasi dan secara disiplin mengikuti rencana finansial mereka
  2. Investor miliarder tidak mengutamakan capital gain saja, mereka juga membangun cash flow dari investasinya
  3. Investor miliarder berinvestasi sebagai owner, investasinya bekerja secara auto pilot menghasilkan uang untuk mereka
  4. Investor miliarder tidak berinvestasi dengan feeling dan ikut-ikutan, mereka menganalisa dengan cermat peluang investasi yang datang
  5. Investor miliarder melakukan manajemen keuangan dan diversifikasi dengan baik
  6. Investor miliarder memiliki exit strategy

4 Jenis Aset Yang Disukai Oleh Investor

  1. Bisnis
  2. Properti
  3. Komoditas
  4. Saham (paper asset)

Apapun jenis aset yang anda ingin investasikan, pastikan anda memanfaatkan 6 strategi yang sudah dibahas sebelumnya. Kuncinya adalah memiliki aset yang juga menghasilkan cashflow, bekerja secara autopilot, dan menghasilkan profit tidak peduli bagaimana kondisi pasar saat ini. Pastikan juga anda menganalisa secara cermat investasi yang anda inginkan, dan melakukan manajemen keuangan dan diversifikasi dengan baik.

Kuncinya Adalah Mulai Beinvestasi Sekarang Juga

Apapun jenis instrumen investasi yang anda inginkan, kuncinya adalah mulai sekarang juga. Dalam dunia investasi, tantangan anda bukanlah berapa uang yang anda investasikan, melainkan berapa lama waktu yang anda berikan untuk investasi tersebut berkembang. Hanya dengan Rp10.000.000 saja, jika diinvestasikan ke dalam instrumen investasi yang memberikan ROI 1% per bulan, dalam 50 tahun akan menjadi Rp 3.915.833.969, hamper 4 miliar Rupiah!

Lumayan jika anda ingin mempersiapkan dana pensiun untuk anak anda. Kuncinya adalah waktu. Semakin lama anda memberikan waktu, semakin besar nilai investasi anda. So, mulai sekarang juga!

Ciri Instrumen Investasi Yang Menarik

Instrumen investasi harus melebihi bunga deposito, dengan tingkat resiko yang proporsional dan masuk akal. Jika anda menemukan instrumen investasi yang memberikan ROI di bawah bunga deposito, tinggalkan saja. Jika ROI sedikit di atas deposito, tapi resikonya jauh di atas deposito, sebaiknya cari yang lain.

Bagaimana cara mengukur resiko? Cocokkan dengan profil resiko anda. Jika sebuah instrumen investasi memerlukan modal Rp100 Miliar, apakah anda siap kehilangan uang tersebut? Ingat, hal terburuk sebuah investasi adalah uang anda hilang. Jika kehilangan uang sebesar itu tidak masalah untuk anda, maka investasi tersebut hitungannya tidak beresiko untuk anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *